Langsung ke konten
Ilustrasi editorial untuk A Monster Calls

Tiga Cerita Pohon Tejo yang Mengajarkan Kita Berdamai dengan Kesedihan

Kemuning3 menit membaca

Draf reviu ini dibuat dengan bantuan AI melalui persona Kemuning, lalu dikurasi dan disetujui oleh editor manusia reviubuku.com sebelum diterbitkan.

Terakhir diperbarui:

Kita semua pernah merasa tak terlihat di tengah keramaian, terlebih saat dunia pribadi kita runtuh perlahan. Conor O'Malley, tiga belas tahun, menjalani hari-harinya seperti hantu di rumahnya sendiri: ibu sakit kanker stadium lanjut, ayah pergi ke Amerika dengan keluarga baru, nenek yang kaku datang mengurus segala hal, dan teman sekelas yang memilih membully atau mengabaikannya. Patrick Ness tidak membuka buku ini dengan eksposisi panjang lebar, melainkan menaburkan detail-detail kecil yang menusuk — seperti cara Conor menatap jam dinding menunggu jam 00.07, saat monster biasanya datang. Kita segera ditarik ke dalam kekosongan Conor tanpa perlu banyak penjelasan.

Monster yang muncul bukan makhluk berbulu di bawah tempat tidur, melainkan pohon tejo (yew tree) tua yang mengakar kuat di halaman belakang, hidup ribuan tahun, dan memiliki suara seperti batu bergesekan. Pilihan pohon tejo bukan kebetulan: pohon ini sering tumbuh di halaman gereja, beracun namun digunakan untuk kemo, simbol kematian sekaligus penyembuhan. Monster itu datang dengan tiga cerita, dan menuntut Conor memberinya cerita keempat — kebenaran Conor sendiri. Struktur naratif ini cerdas karena menghindari klise 'monster mengajarkan moral hidup', malah membaliknya: monster hanya pemandu, Conor yang harus melakukan kerja berat.

Cerita pertama dan kedua yang diceritakan monster menghancurkan pandangan hitam-putih Conor tentang keadilan. Di cerita pertama, putri yang 'baik' ternyata manipulatif, dan pangeran yang 'jahat' justru korban; di cerita kedua, pendeta yang sombong kalah oleh boticaris yang 'jahat' tapi jujur. Conor marah: monster seharusnya menghukum orang jahat, bukan membebaskan mereka. Di sinilah Ness menyentuh realitas remaja: dunia tidak adil, orang baik bisa jahat, dan balas dendam tidak membawa kedamaian. Conor belajar — dan kita ikut belajar — bahwa keadilan bukan soal siapa yang menang, tapi soal menerima kenyataan apa adanya.

Puncak emosional tiba di cerita ketiga, di mana monster menceritakan seekor monster tak terlihat yang hanya ingin dilihat. Ternyata cerita itu adalah metafora Conor sendiri: ia mendorong ibunya ke jurang dalam mimpi buruknya, lalu memegang tangannya agar tidak jatuh — tapi dalam hati ia melepaskannya karena lelah menunggu kematian yang pasti. Scene ini dihancurkan oleh kejujuran brutal: Conor tidak ingin ibunya mati, tapi ia ingin penderitaan (dan ketidakpastian) itu selesai. Ness menuliskan pengakuan ini tanpa sensasi, hanya dengan kalimat pendek yang berhenti di tengah udara, membiarkan kita menghirup napas bersama Conor.

Gaya penulisan Ness ringan di mata tapi berat di dada. Dia tidak menggunakan metafora muluk-muluk, malah memilih kalimat declarative sederhana: 'Ibu sakit. Ibu tidak akan sembuh. Aku takut.' Keadaan batin Conor dicerminkan oleh ilustrasi hitam-putih Jim Kay yang menggelegar: cabang pohon yang seperti pembuluh darah, bayangan monster yang menelan halaman penuh, ketidakstabilan tata letak saat mimpi buruk tiba. Ilustrasi bukan pelengkap, tapi narasi visual yang wajib dibaca. Buku ini membuktikan format 'novel bergambar untuk dewasa muda' bisa lebih dari Walker Books' bukan sekadar label pemasaran.

Bagi kita yang pernah atau sedang menemani orang tersayang sakit terminal, buku ini merasa seperti seseorang yang duduk di samping ranjang tanpa bicara, hanya mengganggengkan tangan. Ia mengakui perasaan 'jahat' yang sering kita sembunyikan: keinginan agar cepat selesai, iri pada orang lain yang normal, kemarahan pada Tuhan atau dokter, rasa bersalah yang melumpuhkan. Ness memberikan legitimasi: perasaan itu tidak membuat kita monster. Yang membuat kita monster adalah menolak mengakui keberadaannya. Inilah pelajaran paling berharga yang bisa dibawa pulang remaja (dan orang tua) dari 208 halaman ini.

Menutup buku ini terasa seperti bangun dari tidur siang yang dalam: disorientasi sebentar, lalu kejelasan yang menenangkan. Kita tidak mendapat ending 'bahagia selamanya', tapi ending jujur: Conor berteriak kebenarannya, ibu pergi damai, dan Conor tersisa dengan nenek dan ayah — hidup yang lanjut, luka yang akan sembuh perlahan. Reviu ini bukan ajakan membaca buku 'harus dibaca', tapi pengingat bahwa kadang kita butuh seekor monster pohon tejo untuk berani berkata: 'Aku takut, dan itu oke.' Biarkan buku ini jadi monster itu untukmu.

"Menerima kesedihan bukan berarti melupakan, tapi berani mengakui bahwa kita boleh lelah menunggu kepergian orang yang kita sayangi."

Kekuatan Buku Ini

Struktur tiga cerita yang membalik moralitas hitam-putih, prosa minim tapi presisi yang menghormati kecerdasan pembaca remaja, ilustrasi Jim Kay yang fungsional dan atmosferik, serta keberanian mengeksplorasi 'pikiran terlarang' anak yang kehilangan orang tua tanpa jargon psikologi.

Catatan Kritis

Pembaca yang tidak familiar dengan konteks budaya Barat (seperti tradisi pohon tejo di halaman gereja) mungkin butuh catatan kaki tambahan untuk menghargai kedalaman simbolisme, meski alur emosional tetap tersampaikan penuh.

Cocok untuk...

Remaja 13+ yang sedang menghadapi kehilangan atau sakit orang tua, orang tua yang ingin memahami dunia batin anak mereka di masa sulit, dan pembaca dewasa yang mencari representasi grief yang jujur tanpa manipulasi emosional murahan.

Informasi Buku

A Monster Calls

PenerbitWalker Books
KategoriAnak & Remaja
Tahun Terbit
Jumlah Halaman208 hlm
ISBN9781406339345
BahasaInggris
Bagikan: