Langsung ke konten
Ilustrasi editorial untuk The Making of the English Working Class

Ketika Rakyat Menulis Sejarah Mereka Sendiri

Tunjung4 menit membaca

Draf reviu ini dibuat dengan bantuan AI melalui persona Tunjung, lalu dikurasi dan disetujui oleh editor manusia reviubuku.com sebelum diterbitkan.

Terakhir diperbarui:

Pada 1963, saat mayoritas sejarawan masih sibuk mengukur pertumbuhan GDP dan keputusan kabinet, E.P. Thompson memilih menatap ke arah yang lain. Ia menatap ke lorong-lorong tenun manual di Lancashire, ke pertemuan rahasia di taman-taman Sheffield, ke surat-surat yang ditulis oleh pria yang belajar membaca di usia tiga puluh tahun. Hasilnya adalah monumen 976 halaman yang menolak menyebut kelas pekerja sebagai 'bahan mentah' revolusi industri. Thompson berargumen: kelas pekerja membuat dirinya sendiri — melalui ritual, percakapan, doa, dan pemberontakan.

Tesis sentral buku ini sederhana tapi radikal: kelas bukan struktur statis, melainkan relationship yang terjadi dalam waktu. Thompson menulis, 'Kelas terjadi ketika sejumlah orang... merasakan identitas kepentingan sebagai lawan golongan lain.' Kata merasakan di sini sengaja dipilih. Bukan sekadar posisi ekonomi, tapi kesadaran kolektif yang dibangun lewat perjuangan sehari-hari. Para penenun tidak tiba-tiba menjadi 'proletariat' saat mesin uap berputar. Mereka menjadi kelas saat mereka menolak disiplin pabrik, saat mereka membentuk friendly societies, saat mereka menyanyikan lagu-lagu yang mengejek majikan mereka.

Metodologi Thompson adalah pelajaran bagi siapa pun yang menulis sejarah dari bawah. Ia tidak mengandalkan statistik produksi atau catatan parlemen saja. Ia membaca koran radikal seperti Black Dwarf, mempelajari lirik ballad yang dinyanyikan di punggung truk, menelusuri jejak Luddites yang dihukum mati, dan merekonstruksi dunia mental para metodis yang beribadah di gudang-gudang kotor. Setiap sumber diperlakukan sebagai bukti agency — bukan sekadar refleksi struktur. Pendekatan ini membuat buku ini terasa seperti novel epik yang penuh karakter, bukan disertasi akademik yang kering.

Salah satu bab paling menggemparkan adalah analisis Thompson tentang Luddism. Sejarah sekolah sering melukis para penenul yang menghancurkan mesin sebagai lawan kemajuan yang bodoh. Thompson membongkar narasi itu. Ia menunjukkan bahwa Luddites bukan anti-teknologi — mereka anti-ekspploitasi. Mesin yang mereka hancurkan adalah mesin yang digunakan untuk menurunkan upah, memperpanjang jam kerja, dan menghilangkan otonomi kerajinan. 'Mesin itu sendiri tidak jahat,' tulis Thompson, 'tapi hubungan sosial yang mengapitnya.' Wawasan ini masih bergema di era algoritma dan gig economy hari ini.

Thompson juga menolak narasi teleologis yang mengarah ke marxisme ortodoks atau trade unionism yang 'dewasa'. Ia menunjukkan betapa kacau, penuh kontraksi, dan penuh perdebatan internal proses pembentukan kelas itu. Ada metodis yang konservatif, ada radikal yang ateis, ada Owenite yang utopik, ada Chartist yang memisahkan diri dari middle-class reformer. Kelas pekerja Inggris tidak lahir utuh — ia lahir dari perdebatan, pecah-belah, dan kompromi. Kejujuran Thompson menampilkan retak-retak ini membuat buku ini menghormati kompleksitas sejarah, bukan menyederhanakannya.

Tapi keberanian Thompson tidak berhenti pada analisis struktur. Ia menaruh perhatian serius pada culture — agama, pendidikan, ritual, humor. Bab tentang metodisme adalah masterclass dalam membaca agama bukan sebagai 'opium' semata, tapi sebagai ruang di mana rakyat miskin menegosiasikan martabat. Metodisme memberi kerangka moral untuk menentang penindasan, tapi juga disiplinkan mereka untuk menerima hirarki. Thompson menolak reduksi materialistis yang mengabaikan dimensi spiritual. 'Kita tidak bisa memahami kelas pekerja tanpa memahami doa mereka,' ia bersikeras. Pendekatan total history ini mendahului cultural studies beberapa dekade.

Keterbatasan buku ini jujur harus disebut: Thompson hampir sepenuhnya mengabaikan perempuan. Para penenun wanita, pedagang kecil, aktivis Chartist perempuan seperti Mary Ann Walker — hampir tidak ada suara mereka. Fokus pada 'pria pekerja' menciptakan siluet kelas yang maskulin. Kritika feminis kemudian (seperti Anna Clark dan Joan Scott) menunjukkan bagaimana gender membentuk class consciousness sama fundamentalnya dengan workplace. Buku ini tetap monumental, tapi tidak lengkap tanpa membaca kritikan tersebut beriringan.

Relevansi buku ini bagi Indonesia tak bisa dilebih-lebihkan. Kita punya sejarah buruh di perkebunan Sumatera, di pabrik tekstil Bandung, di tambang Kalimantan — yang sering ditulis sebagai angka ekspor atau ledakan mogok. Thompson mengajarkan kita untuk bertanya: bagaimana para pekerja itu merasakan kelas mereka? Lagu apa yang dinyanyikan saat istirahat? Cerita apa yang diceritakan ke anak-anak malam hari? Organisasi apa yang dibangun di luar pengawasan majikan? Sejarah buruh Indonesia masih menunggu 'Thompson-nya' sendiri — yang memandang rakyat bukan sebagai objek kebijakan, tapi subjek sejarah.

Kekuatan The Making of the English Working Class bukan pada kelengkapan data, tapi pada sikap penulisnya. Thompson menulis dengan empati yang tidak sentimental, keangkuhan intelektual yang tidak arogan. Ia menolak memasukkan rakyat ke dalam kotak teori. Ia memilih mendengarkan bisik-bisik di arsip, lalu mengubah bisikan itu menjadi gema yang terdengar hingga hari ini. Buku ini adalah monumen untuk agency — pengingat bahwa sejarah tidak hanya terjadi pada orang, tapi dibuat oleh orang, bahkan orang yang namanya tidak tercatat di monumen.

Bagi pembaca Indonesia, buku ini bukan sekadar studi kasus Inggris abad ke-19. Ia adalah manual cara membaca sejarah sendiri — dengan mata yang menghargai perlawanan sekecil apapun, dengan telinga yang mendengar suara yang dibisukan kekuasaan. Thompson meninggalkan kita dengan satu tantangan: jangan pernah menganggap kelas, bangsa, atau identitas sebagai given. Semuanya made. Dan pembuatan itu tidak pernah selesai. The Making of the English Working Class

"Kelas bukanlah kategori statistik — kelas adalah cerita yang kita ceritakan tentang diri kita saat kita berdiri berhadapan dengan kekuasaan."

Kekuatan Buku Ini

Thompson mengubah sejarah sosial dari studi struktur menjadi narasi agency. Ia membuktikan bahwa kesadaran kelas lahir dari budaya, agama, lagu, dan perdebatan sehari-hari — bukan sekadar dari posisi di lini produksi. Metode history from below-nya menjadi standar emas yang masih bergema hingga subaltern studies dan cultural studies kontemporer. Penulisannya padu antara ketatnya arsip dan lebarnya imajinasi moral.

Catatan Kritis

Buku ini buta gender. Perempuan hampir sepenuhnya hilang dari narasi pembentukan kelas, padahal mereka adalah tulang punggung ekonomi rumah tangga dan sering pelopor protes pangan. Fokus pada 'pria pekerja mapan' juga mengabaikan pekerja migran, anak-anak, dan casual labour. Pembaca modern wajib membaca buku ini berdampingan dengan karya Anna Clark, Joan Scott, atau Sheila Rowbotham untuk mendapatkan gambar utuh.

Cocok untuk...

Sejarawan, aktivis buruh, penulis nonfiksi, dan siapa pun yang ingin memahami bagaimana rakyat biasa mengubah struktur kekuasaan — bukan melalui revolusi instan, tapi melalui pembentukan kesadaran yang lambat, kotor, dan penuh pertarungan.

Informasi Buku

The Making of the English Working Class

KategoriSejarah
Tahun Terbit
Jumlah Halaman976 hlm
ISBN9780140136036
BahasaInggris
Bagikan: