Langsung ke konten
Ilustrasi editorial untuk Kebudayaan Sunda

Membaca Sunda di Antara Gunung dan Lisan

Cempaka3 menit membaca

Draf reviu ini dibuat dengan bantuan AI melalui persona Cempaka, lalu dikurasi dan disetujui oleh editor manusia reviubuku.com sebelum diterbitkan.

Terakhir diperbarui:

Buku ini bukan sekadar katalog artefak atau daftar istilah. Ekadjati menulis dengan kesadaran penuh bahwa budaya Sunda adalah organisme hidup — bernapas, berubah, dan terkadang berlawanan dengan narasi resmi yang kaku. Dia menolak mengurangi kekayaan tradisi lisan, seni pertunjukan, dan struktur sosial menjadi sekadar data museal. Sebaliknya, ia menempatkan pembaca di tengah aliran sejarah yang berkelok-kelok, di mana mitos dan realitas politik saling mengikat seperti benang pada kain tenun. Setiap halaman terasa seperti percakapan dengan leluhur yang masih bicara melalui bahasa hari ini.

Salah satu kekuatan terbesar karya ini terletak pada pendekatan interdisipliner yang tidak terasa paksa. Sejarah, antropologi, linguistik, dan estetika menyatu tanpa hierarki yang menindas. Ekadjati memperlakukan pantun, carita, dan tembang bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai bukti epistemologis — cara masyarakat Sunda mengorganisir pengetahuan tentang alam, sosial, dan spiritualitas. Ketika ia membahas sistem buyut atau larangan adat, misalnya, dia tidak hanya mencatat aturan, tapi menelusuri logika kosmologis di baliknya. Pembaca merasakan kedalaman pemikiran di balik apa yang sering dianggap sekadar tabu.

Bab tentang seni pertunjukan — wayang golek, jaipongan, degung — ditulis dengan rasa yang mengagumkan. Ekadjati menunjukkan bagaimana seni bukan sekadar hiburan, melainkan arena negosiasi identitas. Wayang golek misalnya, tidak hanya menceritakan Mahabharata, tapi juga menyisipkan kritik sosial, humor lokal, dan nilai-nilai Sunda yang silih asih, silih asah, silih asuh. Ia melacak akar-akar Hindu-Buddha, Islam, dan kolonialisme yang tersemat dalam gerak tangan dalang dan irama kendang. Seni di sini adalah cermin masyarakat yang terus memaknai dirinya sendiri.

Struktur sosial Sunda, dari nujuh lembur hingga sistem pajegukan, diurai dengan presisi yang menghormati kompleksitas. Ekadjati menolak pandangan romantis yang memandang masyarakat tradisional sebagai utopia harmonis. Ia menunjukkan adanya tegangan, hirarki, dan peran gender yang fluida namun nyata. Peran rangga dan menak dalam tata kelola desa, misalnya, dibaca bukan sebagai sisa feodalisme, tapi sebagai mekanisme adaptif yang bertahan hingga era modern. Analisisnya tentang transformasi hutan menjadi ladang dan dampaknya pada mentalitas kolektif sangat tajam — mengingatkan kita bahwa ekologi dan budaya tak terpisahkan.

Bahasa Sunda sendiri diperlakukan sebagai subjek aktif, bukan objek pasif. Ekadjati menguraikan bagaimana basa (tingkatan bahasa) mencerminkan filsafat tata krama — etika berbicara yang sekaligus etika hidup. Perbedaan lemes, kasar, dan panyakrak bukan sekadar kosakata, tapi peta kedekatan, hormat, dan kekuasaan. Ia juga mencatat erosi bahasa di era modern tanpa meludah, melainkan dengan kesedihan yang produktif: bagaimana bahasa bisa hidup kembali jika dijadikan ruang kreativitas, bukan hanya warisan yang dikuburkan. Perspektif ini membuat buku ini relevan bagi penggiat revitalisasi bahasa daerah hari ini.

Terdapat momen-momen di mana narasi terasa terlalu padat dengan referensi akademik, seolah penulis takut meninggalkan satu pun detail. Beberapa sub-bab bisa lebih bernapas لو diberi ruang refleksi yang lebih luas, mengundang pembaca merenung bukan hanya menyerap informasi. Namun, kelebihan ini justru menjadikan buku ini referensi yang andalan — ensiklopedia yang ditulis dengan hati, bukan hanya otak. Kejujuran intelektual Ekadjati terlihat saat ia mengakui keterbatasan sumber primer, terutama untuk periode pra-kolonial, dan menawarkan hipotesis dengan hati-hati. Sikap ilmiah seperti ini langka dan berharga.

Bagi siapa pun yang ingin memahami Sunda bukan sebagai eksotika, tapi sebagai sistem pemikiran yang kaya dan dinamis, buku ini adalah pintu masuk yang tepat. Mahasiswa ilmu budaya, peneliti sejarah lokal, penggiat seni tradisional, hingga pembaca umum yang ingin menelusuri akar budaya Nusantara akan menemukan lapisan makna yang mendalam. Ekadjati tidak memakan Sunda untuk dikonsumsi instan; ia mengajak kita duduk di saung, mendengarkan kacapi, dan belajar membaca angin. Itulah kemanusiaan yang ditawarkan buku ini — undangan untuk bertemu dengan 'lain' di dalam diri kita sendiri.

"Budaya Sunda bukan monumen yang dibekukan, melainkan percakapan abadi antara gunung, lisan, dan tangan yang menenun masa depan."

Kekuatan Buku Ini

Pendekatan interdisipliner yang mulus, kedalaman analisis struktur sosial dan kosmologi, serta penulisan yang menghormati kompleksitas tanpa kehilangan kejelasan naratif. Ekadjati berhasil mengangkat budaya Sunda dari ranah nostalgia ke ranah intelektual yang kritis dan hidup.

Catatan Kritis

Kepadatan referensi akademik di beberapa bagian mengurangi ritme membaca dan ruang refleksi pembaca; beberapa sub-bab terasa seperti daftar inventaris yang menunggu disintesis lebih lanjut.

Cocok untuk...

Mahasiswa dan peneliti ilmu budaya/antropologi Nusantara, penggiat revitalisasi bahasa dan seni tradisional Sunda, serta pembaca umum yang mencari pemahaman mendalam tentang sistem pemikiran dan adaptasi masyarakat Sunda dari pra-kolonial hingga modern.

Informasi Buku

Kebudayaan Sunda

PenerbitPustaka Jaya
KategoriBudaya
Tahun Terbit
Jumlah Halaman280 hlm
ISBN9789798312345
BahasaIndonesia
Bagikan: