Hobsbawm dan Ranger tidak menulis sejarah tradisi; mereka menulis sejarah pembuatan tradisi. Perbedaan itu halus tapi fundamental. Tradisi dalam pengertian konvensional diasumsikan tumbuh organik, dilewatkan generasi demi generasi seperti air di sungai. Para penyunting buku ini justru menunjukkan saluran irigasi buatan yang mengarahkan aliran itu — kadang dengan beton, kadang dengan narasi. Esai pembukaan Hobsbawm menetapkan nada: tradisi yang 'diciptakan' bukan palsu, melainkan fungsional, dirancang untuk menjawab kebutuhan politik masa kini dengan mengklaim otoritas masa lalu.
Kasus Highland Scotland menjadi buka-bukaan paling ikonik. Kilt, tartan, dan gamelan pipa yang kini jadi simbol identitas Skotlandia, sebetulnya disunting ulang pada abad ke-19 oleh aristokrat Inggris dan pengusaha tekstil. Hobsbawm mencatat bagaimana Highland Society of London — yang anggotanya mayoritas Lowlander dan Inggris — merancang 'tradisi' Highland untuk melayani kepentingan integrasi militer dan romantisasi kekerasan kolonial. Tidak ada klaim keaslian yang bisa bertahan di hadapan bukti arsip: kilt modern adalah penemuan Thomas Rawlinson, seorang pengusaha pabrik besi Quaker dari Lancashire, yang memotong belted plaid jadi dua agar pekerja tambangnya lebih lincah. Ironi itu tidak mengurangi kekuatan simbol; justru memperkuatnya.
Di sisi lain benua, Terence Ranger mengurai bagaimana kolonial Inggris di Afrika 'menciptakan' kedaulatan tradisional untuk memudahkan penguasaan tidak langsung. Para district officer muda, sering kali tanpa pelatihan antropologis, menunjuk 'raja-raja' dan 'penghulu-penghulu' sesuai kebutuhan administrasi pajak dan tenaga kerja. Adat istiadat yang fluida, kontekstual, dan negosiatif dibekukan menjadi customary law yang kaku, tertulis, dan — yang paling krusial — dapat dikawal pengadilan kolonial. Ranger menunjukkan betapa proses ini bukan sekadar kesalahan pemahaman, melainkan strategi: tradisi yang dikodifikasi jadi alat untuk membatalkan otoritas lokal yang sebenarnya lebih kompleks dan demokratis. Masa lalu Afrika tidak ditemukan; ia ditulis ulang dalam bahasa hukum Inggris.
David Cannadine lalu mengalihkan lensa ke pesta-pesta kerajaan British: coronation, jubilee, durbar di India. Ia memperlihatkan bagaimana ritual-ritual megah yang terlihat abadi justru lahir pada akhir abad ke-19, saat monarki menghadapi krisis legitimasi dari gerakan buruh, sufragis, dan anti-kolonial. Durbar 1877 di Delhi — di mana Ratu Victoria dinobatkan Kaisar India — dirancang oleh Lytton sebagai teater legitimasi imperial, lengkap dengan kostum 'tradisional' yang diciptakan untuk acara itu sendiri. Cannadine menuliskan dengan presisi bedah: 'Monarki tidak mewarisi tradisi; ia menciptkannya untuk mewarisi kekuasaan.' Kalimat itu bergema di seluruh buku.
Kekuatan buku ini terletak pada ketidakmauannya untuk mencela. Hobsbawm dan Ranger tidak menuduh para pelaku 'bohong'. Mereka menunjukkan logika internal: tradisi diciptakan karena perlu diciptakan. Negara bangsa modern membutuhkan mitos asal-usul yang mengikat warga negara yang anonim menjadi 'bangsa'. Kolonialisme membutuhkan hierarki tradisional yang mengubah kekerasan jadi hukum. Bahkan gerakan radikal — seperti yang dianalisis Hobsbawm di bab penutup — menciptakan ritual solidaritas baru (bendera merah, lagu-lagu perjuangan) untuk menggantikan ritual agama yang ditinggalkan. Fungsi sosionya mirip; hanya arah politiknya yang berlawanan.
Metodologi kolektif ini — tujuh esai, tujuh konteks, satu kerangka analitis — mencegah generalisasi longgar. Setiap penulis mematuhi bukti arsipnya masing-masing: surat-menyurat kantor kolonial, katalog pameran, laporan polisi, koran partisipan. Tidak ada teori grand yang dipaksakan ke atas data. Justru kerangka 'penemuan tradisi' muncul dari kasus-kasus itu, seperti pola yang terbaca setelah kita mundur dari mozaik. Itulah keunggulan pendekatan sejarah empiris Hobsbawm: teori tidak mengudara, ia tumbuh dari lumpur arsip.
Bagi pembaca Indonesia, resonansi buku ini tak bisa dielakkan. Dari adat istiadat yang dikodifikasi Orde Baru hingga 'budaya' yang dipaketkan untuk pariwisata, dari 'tradisi' kampus yang diciptakan alumni hingga ritual pemilu yang dinyanyikan seolah abadi — pola yang sama berulang. Tradisi bukan warisan statis yang kita terima pasif; ia adalah medan pertarungan di mana kekuasaan menegaskan dirinya lewat bahasa masa lalu. Membaca buku ini seperti memakai kacamata baru: tiba-tiba kita melihat jahitan di balik jubah kebesaran yang selama ini kita anggap tanpa celah.
"Tradisi bukan warisan yang kita terima, melainkan medan pertarungan di mana kekuasaan menegaskan dirinya lewat bahasa masa lalu."
Kekuatan Buku Ini
Kerangka analitis 'invented tradition' yang tajam dibuktikan dengan kasus-kasus empiris kaya dari tiga benua, tanpa mengorbankan nuansa lokal demi generalisasi. Setiap esai berdiri sendiri tapi saling memperkuat, menciptakan mozaik intelektual yang koheren.
Catatan Kritis
Fokus pada elite penguasa (kolonial, monarki, negara) membuat suara subaltern — yang menolak, menyunting, atau menghidupi tradisi tersebut — relatif tersisihkan. Beberapa esai (khususnya bab Hugh Trevor-Roper tentang Highland) terasa terlalu percaya pada arsip institusi tanpa cukup mempertanyakan siapa yang menulis arsip itu.
Mahasiswa sejarah, sosiologi, dan studi budaya yang ingin memahami genealogi konsep 'tradisi'; praktisi kebudayaan dan desainer kebijakan yang bekerja dengan warisan; serta pembaca umum yang ingin membaca identitas bangsa dengan mata yang lebih kritis.




