Di desa Dukuh Paruk, hampelek yang terpendam di balik sawah lebar, hidup berirama dengan ketukan kendang dan seruling yang mengiringi tari ronggeng. Ahmad Tohari membuka novelnya dengan gambaran sungguh nyata: pagi yang masih berseri karena embun, tandis para wanita menyiapkan kemben dan gelang untuk persembahan malam. Srintil, gadis berusia belasan tahun yang sudah menemukan gerakan tubuhnya sebagai bahasa, tampil di panggung kasar dengan keanggunan yang menarik perhatian laki-laki maupun perempuan. Ia bukan hanya seorang penari; ia menjadi simbol kehalusan yang bertahan apesar perubahan yang langsam namun pasti menyusul. Pada masa sebelum Proklamasi 1945, tradisi ronggeng masih menjadi tempat berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat, dari petani hingga priyayi yang discretely menikmati penampilan. Tohari menggambarkan suasana dengan detail yang hampir dapat kita dengar: riuh sekaran, aroma kentangan yang dibakar, dan ketawa yang terputus-putus oleh sorak sorakan. Latar ini tidak hanya sebagai backdrop, melainkan sebagai napas yang memberikan kontras terhadap gelombang perubahan yang akan datang. Dengan sentuhan yang lembut namun tepat, penulis mengundang kita merasakan getaran tanah dan hati para penduduk desa sebelum sejarah menumpas jalannya. Novel ini, dengan menggunakan bahasa yang mengalihkan antara Bahasa Indonesia baku dan dialek Jawa, membuka jendela bagi pembaca untuk merasakan napas hidup yang hampir terlupakan, sekaligus menyoroti bagaimana seni dapat menjadi arus lawan terhadap gelombang modernisasi yang tak menghukum.
Tohari menawarkan sebuah gaya bahasa yang jarang ditemui dalam karya prosa Indonesia zaman itu: campuran narasi yang licin dengan puisi yang terselip di antar kalimat, seperti sebuah lagu Jawa yang tidak pernah selesai. Ia sering mengalihkan kalimat formal dengan ungkapan-ungkapan dialectal yang tak terjemahkan, misalnya 'sukma' atau 'jatineka', yang memberikan rasa autentik tanpa memaksa pembaca untuk konsumsi kamus. Setiap adegan ronggeng disajikan dengan deskripsi gerakan yang hampir koreografi, di mana setiap ayunan tangan ditulis sebagai metaphor perasaan: 'tangan Srintil melayang seperti daun kelapa yang tertiup angin barat'. Selain itu, penulis menggunakan ulangan frase yang mirip dengan struktur pantun, menciptakan irasa berulang yang menenangkan namun tidak membosankan. Dialog antara tokoh sering dipenuhi oleh singkatan dan sapaan yang khas masyarakat pedesaan, seperti 'Mas' dan 'Mbok', yang menandai hubungan hierarkis namun akrab. Dengan pendekatan ini, Tohari tidak hanya menceritakan kisah, ia juga mengajak kita mendengar suara desa itu sendiri – suara yang bergetar dari lantai kayu panggung, dari beluk kentang yang dibakar, dan dari napas para penonton yang menahan napas ketika Srintil melangkah. Bahasa yang dipakai menjadi jembatan yang menghubungkan estetika seni tradisional dengan kebutuhan narasi modern, sehingga setiap halaman terasa seperti sebuah penawaran yang simultaneously mengajak merenung dan menari. Dalam setiap baris, Tohari menuliskan janji bahwa seni bukan sekadar hiburan, tapi juga akar identitas yang tak dapat digoyang.
Novel ini bukan sekadar kronik tentang seorang ronggeng; ia juga menjadi catatan sosial yang menyentuh perubahan struktur kekuasaan di Jawa pasca-Proklamasi. Ketika angin revolusi mulai menyentuh dusun, lembaga adat yang selama bertahun-tahun mengatur hubungan antara artista dan patrons mulai mengalami geser. Para pemuda yang baru saja kembali dari pelatihan militer atau dari sekolah Partai Komunis Indonesia mulai menanyakan keberasanan tradisi ronggeng, menilainya sebagai jejak feudal yang tidak selaras dengan nilai-nilai kemerdekaan yang baru lahir. Tohari menggambarkan konflik ini tidak melalui pidato politik melainkan melalui peristiwa kecil: seorang waria yang menawarkan bantuan kerja di sawah menolak tawaran untuk menari karena menganggapnya tidak lagi sesuai dengan cita-cita baru; seorang guru desa yang mengajarkan pembacaan dan tulisan mulai mengajarkan juga nilai-nilai kemerdekaan dan kesetaraan kepada anak-anaknya, sekaligus menasehati Srintil untuk berpikir tentang masa depan selain panggung. Namun, di balik tekanan modernisasi, Srintil tetap berpegang pada seni yang telah menjadi nafasnya; ia menari bukan untuk memuaskan pelanggan, melainkan untuk menjaga sesuatu yang lebih dalam – sebuah koleksi gerakan yang menyalinkan generasi sebelumnya. Tohari menunjukkan bahwa perjuangan antara mempertahankan warisan dan mengubah diri tidak pernah bersifat biner; justru ia menawarkan ruang ambivalensi di mana setiap pilihan dipenuhi dengan rasa kehilangan dan harapan, mencerminkan keadaan masyarakat yang tengah belajar menafsirkan kembali makna kebebasan setelah masa kolonial.
Srintil, tokoh pusat novel, digambarkan sebagai seorang gadis yang kehalusannya bukan hanya terletak pada gerakan fisik tetapi juga pada cara ia menafsirkan dunia sekitarnya. Ia belajar bahwa setiap langkah kaki atas tanah liat bisa menjadi doa, setiap putaran tubuh bisa menjadi pertanyaan tentang kehendak hati. Rasus, pemuda yang jatuh cinta padanya, mewakili generasi yang terpecah antara loyalitas kepada adat dan tekad untuk membangun masa depan baru. Ia tidak hanya seorang pembeli tiket atau penggemar penari; Rasus membaca surat-surat dari kota, mendengarkan pidato para pemimpin, dan mencoba menafsirkan apa arti kemerdekaan bagi seorang pekerja sawah. Hubungan mereka tidak pernah menggambarkan cinta konvensional yang hanya berdasarkan fisik; malah ia menjadi ruang pertukaran ide di mana Srintil menyampaikan melalui gerakan apa yang tidak bisa diucapkan, sementara Rasus menjawab dengan kata-kata yang berusaha menyejukkan ketidakpastian. Tohari menghindari potret Romantis yang membosankan; alih-alih ia menunjukkan bahwa rasa sakit dan kebahagiaan dalam hubungan ini selalu diiringi oleh pertanyaan tentang apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus diubah. Ia juga menyinggung aspek gender: Srintil, meski memiliki kekuatan ekspresif yang luar biasa, masih diposisikan sebagai objek daya tarik yang dapat dialihkan oleh kekuasaan patriarkal, baik dari para priyayi maupun dari aparat baru yang menuntut produktivitas ekonomi. Namun, melalui ketekunan dan keberanian untuk tetap menari meski menghadapi tekanan, Srintil menunjukkan bahwa seni bisa menjadi bentuk perlawanan halus, sebuah cara untuk mengagihkan kontrol tanpa perlu mengangkat senjata.
Di balik pesona tari, Tohari menyoroti struktur kekuasaan yang menempatkan tubuh wanita sebagai medan pertukaran nilai ekonomi dan simbolik. Srintil, meski memiliki kemampuan memikat melalui gerakan, sering kali ditemui dalam posisi yang membuatnya tergantung kepada keuntungan yang didapat dari penonton – baik itu uang, pangan, atau bentuk proteksi sosial. Hal ini menggambarkan dinamika patriarhal yang tidak hanya berlaku di keraton tetapi juga menyebar ke desa, di mana kepercayaan akan kemampuan seorang wanita untuk menghasilkan pendapatan melalui tari dianggap sebagai bentuk keabsahan kontrollasi atas seksualitasnya. Namun, novel juga menunjukkan ruang negosiasi: Srintil mampu menawarkan tawaran yang tidak selalu menguntungkan bagi pihak lain, seperti ketika ia menolak tawaran seorang priyayi untuk menjadi concubine karena merasa hal itu akan menghancurkan integritas artistiknya. Tohari tidak menyajikan Srintil sebagai korban pasif; ia adalah agen yang terus menilai nilai transaksi sosial yang terjadi di sekitarnya. Selain gender, buku menyentuh juga tentang kelas: perbedaan antara petani yang hidup dari hasil sawah dan priyayi yang menikmati hasil bumi tanpa langsung berkerja membuat jarak sosial terasa jelas dalam setiap interaksi di panggung. Revolusi yang datang kemudian tidak sepenuhnya menghilangkan diferensial ini, melainkan mengalihkan bentuknya – dari obligasi adat menjadi tuntutan produktivitas dalam konteks ekonomi nasional. Dengan cara ini, Tohari menawarkan kritik yang tidak bersifat dakwah tetapi lebih seperti observasi dokumen: ia menunjukkan bagaimana seni, gender, dan kelas saling saling terkait dalam sebuah jaringan yang kompleks, dan bagaimana perubahan sejarah hanya menambah lapisan tanpa menghapus pola dasar.
Ronggeng Dukuh Paruk, meski terbit pada awal tahun 1980-an, tetap berbicara kepada pembaca kontemporer yang sedang menegakkan pertanyaan tentang identitas dalam era globalisasi. Novel menawarkan sebuah cara untuk melihat bagaimana tradisi lokal tidak harus dipandang sebagai relik yang harus dipusatkan dalam museum, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diinterpretasikan ulang sesuai dengan konteks masa kini. Srintil, dengan ketekunan untuk menari meski dunia sekitarnya berubah, menjadi metaphor bagi para pelukis, penulis, dan aktivis yang berusaha menjaga bentuk ekspresi budaya tanpa harus menolak perubahan secara total. Tohari juga mengajak kita untuk memperhatikan bagaimana panggung desa – tempat yang sederhana namun dipenuhi makna – dapat menjadi laboratorium demokrasi di mana suara dari lapisan bawah dapat terdengar melalui gerakan, musik, dan ketukuhan bersama. Dalam sebuah waktu di mana aliran informasi cepat dan sering kali menyederhanakan narasi, novel ini mengingatkan bahwa setiap gerakan tari memiliki lapisan makna yang membutuhkan waktu untuk ditelaah, dan bahwa kecepatan tidak selalu sama dengan kedalaman. Dengan menggunakan bahasa yang puitis namun dapat diakses, Ahmad Tohari menciptakan sebuah karya yang tidak hanya meng entertaining, tetapi juga mengajak refleksi kritis tentang bagaimana sebuah masyarakat bisa melangkah maju tanpa meninggalkan akar yang memberinya rasa keberkesanan. Ronggeng Dukuh Paruk, oleh karena itu, tetap menjadi bacaan esensial bagi mereka yang ingin memahami dinamika antara seni, sejarah, dan perubahan sosial di Nusantara.
"Sebuah gerakan tari dapat menjadi arus lawan yang melambat arus perubahan tanpa harus mengoyakkan tanah di bawahnya."
Kekuatan Buku Ini
Kekuatan utama novel terletak pada kemampuan Tohari untuk menyatukan bahasa puitis dengan observasi sosial yang tajuk, sehingga setiap adegan ronggeng tidak hanya menari tetapi juga berbicara tentang kekuasaan, gender, dan kelas dengan halus namun menonjol.
Catatan Kritis
Sebagai novel yang kaya akan lapisan, kadang narasi terasa sedikit melambat pada bagian tengah ketika penulis menguraikan detail rituал yang, sebbene indah, kurang menggerakkan konflik utama.
Pebaca yang tertarik pada sastra Jawa, sejarah sosial Revolusi, serta hubungan antara seni tradisional dan perubahan politik abad ke-20.




